FPKSDPRDKOTABEKASI.ID – Pada bulan Maret 2025 lalu Kota Bekasi terdampak banjir besar yang akhirnya meninggalkan kerusakan seperti infrastruktur di banyak titik. Selain itu kerugian lain seperti berbagai materi yang dirasakan warga juga mungkin belum sepenuhnya pulih.
Terkait dengan hal tersebut, pada momentum Nataru nanti, risiko cuaca ekstrim dan pembentukan bibit siklon tropis harus diwaspadai.
Tak hanya itu, Pemerintah Kota Bekasi telah menetapkan siaga darurat perihal potensi bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrim pada Oktober 2025, dan berlaku hingga April 2026.
Perihal tersebut Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary menyampaikan bahwa pekerjaan rumah tersebut amatlah besar bagi Kota Bekasi pasca banjir besar Maret lalu adalah normalisasi Kali Bekasi.
“Normalisasi dan pembangunan tanggul hasilnya belum signifikan untuk mencegah banjir akibat air kiriman dari hulu. Banjir terbesar sepanjang sejarah Kota Bekasi bisa saja terulang jika tidak diantisipasi dengan baik,” ujar Latu.
“Terkait dengan tanggul (Kali Bekasi), seperti yang kita ketahui beberapa PR masih belum selesai. PR tanggul ini mengakibatkan banjir cukup parah terutama di wilayah Galaxy dan sekitarnya,” ungkap Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, Selasa (2/12/2025).
Latu kembali menyampaikan bahwa sampai hari ini belum ada informasi yang menggembirakan terkait dengan kelanjutan normalisasi tanggul Kali Bekasi dari pemerintah pusat.
Latu mengingatkan beberapa waktu terakhir terjadi anomali cuaca, juga ancaman Siklon Tropis Senyar. Potensi pembentukan siklon tropis tidak boleh dianggap sepele, mesti direspon untuk meminimalisir dampak bagi masyarakat.
Terlebih Kota Bekasi, secara geografis berada di wilayah hilir dari aliran sungai. Dua sungai besar, Cikeas dan Cileungsi bertemu di Kali Bekasi.
“Apakah potensi itu dimungkinkan? Sangat dimungkinkan terjadi di Jawa Barat, terutama di daerah perlintasan sungai. Ini yang harus kita antisipasi, jadi memang dari Provinsi Jawa Barat dan Kota Bekasi atau wilayah sekitarnya ini perlu antisipasi dan waspada,” paparnya.
Antisipasi menurutnya bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya modifikasi cuaca. Beberapa daerah yang saling berdekatan seperti DKI dan Kota Bekasi dapat menjalin komunikasi untuk melakukan modifikasi cuaca, tentunya dengan memperhitungkan prakiraan cuaca dari BMKG.
Pemerintah daerah juga perlu bekerjasama dengan pemerintah pusat dalam menjalankan kebijakan ini. Berikutnya adalah langkah antisipasi dari Pemkot Bekasi seperti memetakan titik rawan banjir, memastikan seluruh pompa air dapat dioperasikan, dan memeriksa kondisi tanggul.
“Kalau ini sudah kita persiapkan dengan matang, semoga kita tidak akan lagi kecolongan, karana kita tidak bisa sepenuhnya memprediksi cuaca ini seperti apa kedepannya,” ucapnya.
Pembangunan polder air yang telah direncanakan pada tahun 2025 harus dipastikan selesai dan berfungsi dengan baik, pekerjaan prioritas harus dipercepat. Pasalnya, realisasi serapan anggaran untuk pekerjaan fisik berdasarkan informasi terkahir yang diterima belum mencapai 60 persen.
Sejauh ini, pihaknya belum melihat upaya yang dilakukan oleh Pemkot Bekasi untuk mengantisipasi cuaca ekstrim di penghujung tahun. Sampai dengan saat ini menurutnya potensi bencana terbesar di Kota Bekasi adalah banjir.
Ia menyarankan warga terutama yang berada di daerah rawan banjir tetap waspada menghadapi anomali cuaca akhir-akhir ini. Semua pihak mesti melakukan upaya mitigasi bencana, seperti menyimpan barang-barang berharga di tempat yang aman, serta komunikasi yang baik harus dibangun antara warga dan pemerintah.





